Dari Sanggrahan ke Panggung Sleman, Siswa Mutemsa Bawa “Nexus Vernalis”

Dari Sanggrahan, karya siswa Mutemsa kemudian hadir di panggung Sleman dengan satu pesan sederhana: tradisi tidak harus berhenti sebagai kenangan. Di tangan generasi muda, tradisi dapat diolah, dikembangkan, dan dihadirkan kembali dalam wajah yang lebih segar.

Mengikuti ajang Fashion Show

Dari Sanggrahan ke Panggung Sleman, Siswa Mutemsa Bawa “Nexus Vernalis”

 

SLEMAN – Dari ruang praktik busana di Sanggrahan, Tempel, karya siswa SMK Muhammadiyah 1 Tempel (Mutemsa) melangkah ke panggung fashion show di pusat keramaian Sleman. Membawa tema “Nexus Vernalis”, siswa kelas XII Kompetensi Keahlian Desain dan Produksi Tata Busana memadukan kekayaan wastra Nusantara dengan sentuhan fesyen masa kini.

Karya tersebut tampil dalam gelaran “Bunga-Bunga dan Wastra” yang dipersembahkan oleh Billy Production di Atrium Shinta, Sleman City Hall (SCH), Kamis, 18 September 2026 pukul 15.30 WIB.

Bukan sekadar peragaan busana, keikutsertaan Mutemsa menjadi panggung pembuktian bahwa pendidikan vokasi dapat melahirkan karya kreatif yang berangkat dari budaya lokal sekaligus mampu merespons perkembangan dunia fesyen.

Di balik karya “Nexus Vernalis” terdapat proses kreatif siswa kelas XII yang dibimbing oleh guru Kompetensi Keahlian Desain dan Produksi Tata Busana, Barakatus Aminah, S.Pd., atau yang akrab disapa Ibu Oka.

Para siswa terlibat dalam proses pengembangan gagasan, pemilihan material, pengolahan desain, hingga persiapan penampilan di atas panggung. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan kompetensi yang selama ini mereka pelajari di sekolah dalam situasi nyata.

Merajut Tradisi dan Gaya Kekinian

Nama Nexus Vernalis mengandung gagasan tentang pertemuan, keterhubungan, dan semangat pembaruan. Konsep tersebut diterjemahkan melalui busana yang mengangkat unsur kebaya, batik, motif tradisional, serta elemen bunga yang dikemas dengan pendekatan desain modern.

Di tangan siswa Mutemsa, wastra tidak ditempatkan semata-mata sebagai simbol masa lalu. Wastra justru diolah menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan karya yang dekat dengan selera generasi masa kini.

“Ketika wastra Nusantara bertemu gaya kekinian, tradisi tidak berhenti sebagai warisan, tetapi tumbuh menjadi inspirasi.”

Bagi Ibu Oka, proses kreatif siswa merupakan bagian penting dari pembelajaran vokasi. Siswa perlu diberi ruang untuk berani menuangkan gagasan, mencoba, melakukan perbaikan, dan kemudian mempertanggungjawabkan karya mereka di hadapan publik.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mampu membuat busana, tetapi juga mampu memiliki konsep, berani berkreasi, bekerja sama, dan percaya diri membawa karya mereka ke ruang publik. Fashion show ini menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga bagi siswa kelas XII,” ujar Barakatus Aminah, S.Pd. (Ibu Oka).

Dukungan Sekolah

Keikutsertaan Mutemsa dalam ajang tersebut mendapatkan dukungan dari Kepala SMK Muhammadiyah 1 Tempel, Broto Purwanto, S.Pd., M.S.I. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memberikan ruang yang lebih luas kepada siswa untuk mengembangkan kompetensi, kreativitas, dan pengalaman profesional.

Menurut Broto Purwanto, pendidikan SMK tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang memahami teori dan keterampilan teknis. Murid-murid juga perlu mendapatkan pengalaman tampil, berkolaborasi, berkomunikasi, dan menunjukkan hasil karyanya kepada masyarakat.

“Kami memberikan dukungan penuh kepada siswa dan guru untuk terus mengembangkan kreativitas. Karya ‘Nexus Vernalis’ menunjukkan bahwa anak-anak Mutemsa mampu mengolah potensi budaya Nusantara menjadi karya fesyen yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman,” ungkap Broto Purwanto, S.Pd., M.S.I.

Ia menambahkan, pengalaman mengikuti kegiatan seperti fashion show menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual bagi siswa. Mereka belajar bahwa kompetensi yang diperoleh di sekolah dapat dikembangkan menjadi karya yang memiliki nilai estetika sekaligus berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Dari Sekolah Menuju Industri Kreatif

Bagi siswa kelas XII Desain dan Produksi Tata Busana, panggung di Sleman City Hall menjadi lebih dari sekadar tempat memperagakan busana. Panggung tersebut menjadi ruang untuk menguji keberanian, kreativitas, kerja sama, dan kemampuan menerjemahkan ide menjadi sebuah karya.

Pengalaman tersebut juga sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang menempatkan praktik sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Siswa diperkenalkan pada proses kreatif yang mendekati dunia kerja dan industri kreatif, mulai dari penciptaan konsep hingga presentasi karya.

Gelaran “Bunga-Bunga dan Wastra” akhirnya menjadi titik temu antara tradisi, kreativitas, pendidikan, dan industri fesyen. Bunga menjadi simbol keindahan, sementara wastra menjadi identitas budaya yang terus menemukan bentuk baru melalui tangan generasi muda.

Dari Sanggrahan, karya siswa Mutemsa kemudian hadir di panggung Sleman dengan satu pesan sederhana: tradisi tidak harus berhenti sebagai kenangan. Di tangan generasi muda, tradisi dapat diolah, dikembangkan, dan dihadirkan kembali dalam wajah yang lebih segar.

Nexus Vernalis—merajut wastra Nusantara, menyulam kreativitas, dan membawa karya Mutemsa menuju panggung masa depan.

 

#Berita
SHARE :
Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT